TELEFAST INDONESIA BERLARI MENJADI AGREGATOR LOGISTIK

Image
Anda yang memegang saham PT Telefast Indonesia Tbk. saat pertama kali perusahaan ini melantai di bursa pada 17 September 2019, rasanya patut kipas-kipas senang. Betapa tidak, harga perdana di Rp 180 per saham, pada sesi penutupan 16 Juli 2021 nangkring di posisi 4.150. Itu berarti sejak IPO, saham telah terbang 2.205%.

Namun, jangan keliru dengan menganggap harga saham perusahaan berkode TFAS ini naik sejak awal IPO. Sebab, dirunut pada pergerakan saham, kenaikan tajam mulai terjadi pada 12 Januari 2021 ketika harga bergerak ke titik Rp 400 setelah lama berputar-putar di bawah Rp 200 per saham.

Setelah itu, hingga Juli 2021, sahamnya melonjak-lonjak, bahkan sempat digembok (suspended) lebih dari satu bulan oleh otoritas bursa lantaran terkena auto reject atas (ARA) akibat harga yang terus melejit. Sahamnya bahkan tergolong mereka yang terbang tinggi pada semester I/2021, yakni 1.511%, berada di bawah PT DCI Indonesia Tbk. (14.047%) dan Bank Aladin Syariah Tbk (3.116%).

Jody Hedrian, CEO PT Telefast Indonesia, menegaskan bahwa perusahaannya tidak mengetahui secara spesifik penyebab kenaikan harga saham sejak awal Januari 2021. “Pergerakan harga saham merupakan mekanisme pasar.” ujarnya. Yang pasti, dia melanjutkan, perusahaannya terus berupaya secara konsisten menciptakan value bagi pemegang saham.

Berdiri pada 17 Oktober 2008, sayap bisnis Telefast memang terus mengembang, terlebih pasca-go public. Setelah berkutat di bisnis penyedia solusi sumber daya manusia (SDM) yang terintegrasi lewat aplikasi HR-KU dan Bilik Kerja, Telefast yang merupakan anak usaha PT M Cash Integrasi Tbk. menggelar sejumlah aksi korporat dalam rangka meluaskan cengkraman bisnisnya, terutama di panggung logistik.

Seiring perkembangan pasar e-commerce — yang di dalamnya turut menggemukan pasar courier, express, and parcel (CEP) — Telefast mengambil langkah strategis. Tahun 2020 mereka mereposisi strategi bisnisnya untuk terlibat dalam bisnis supply chain management melalui anak usahanya, PT Logitek Digital Nusantara (LDN). Lewat LDN, mereka menjalin kerjasama dengan SiCepat Ekspres Indonesia (SiCepat) untuk mengembangkan drop point pengiriman paket. Drop point kurang-lebih bermakna titik hubung antara pihak kurir dan pelanggan.

Berikutnya, mereka membentuk anak usaha baru, PT TFAS Digital Indonesia, pada 23 Februari 2021. Lalu April 2021, bergerak lebih baju: mengambil 15% saham PT Clodeo Indonesia Jaya. Aksi ini bertujuan meningkatkan performa platform teknologi logistik Telefast dengan mengintegrasikan sistem teknologi yang ditawarkan Clodeo sebagai perusahaan jasa penyedia perangkat lunak logistik.

Clodeo menyediakan digital business kepada sejumlah perusahaan logistik, seperti JNE dan AnterAja. Teknologinya meningkatkan sistem ordering, tracking, serta distribusi dalam kegiatan operasional perusahaan logistik.

Diluar langkah di atas (kerjasama dengan SiCepat dan akuisisi Clodeo), Telefast juga melakukan perluasan jaringan drop point melalui kerjasama dengan Alfamart dan PT Shippindo Teknologi Logistik (Shipper) pada akhir Mei 2021. Pada kerjasama yang terakhir ini, Telefast memperluas jaringan pickup dan drop point SiCepat sebanyak 137 titik untuk area Medan dan Surabaya. Shipper adalah salah satu agregator logistik dan warehouse di Indonesia yang menyediakan jasa penjemputan dan pengiriman barang serta manajemen pergudangan.

“Mungkin hal ini yang dilihat pasar sebagai katalis positif bagi perseroan mengingat sektor ini (logistik) sangat diuntungkan di tengah kondisi PSBB,” kata Jody. Terlepas dari analisis tersebut, saham sektor logistik memang melejit di bursa di tengah pandemi. Pasar mengapresiasi perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor ini. Per Mei 2021, di lantai bursa, indeks sektor transportasi dan logistik menjadi salah satu indeks yang mencatatkan pertumbuhan positif sejak awal 2021. Indeks ini menguat 10,84% secara year to date (ytd).

Ditinjau dari sisi fundamental, Telefast sendiri terus berupaya mencetak hasil positif. Perusahaan yang pada tahun 2020 membukukan laba bersih Rp 6,5 miliar ini tak henti berupaya membuat value creation. Langkah-langkah yang digelar beberapa bulan terakhir 2021 membuat jumlah drop point melejit jadi 5.722 gerai pada Juni 2021, naik pesat dibandingkan 1.824 gerai pada Maret 2020. “Kami menargetkan 15.000 drop point pada akhir tahun 2021,” Jody menandaskan. Pertumbuhan mitra logistik juga sangat pesat, dari 962 toko pada Januari 2021 menjadi 5.755 toko pada Juni 2021.

Lalu, bagaimana gambaran bisnis perusahaan ini hingga 2-3 tahun ke depan?
Saat ini, Jody menjelaskan, mereka fokus di bidang logistik dan terus mengembangkan teknologi logistik berikut jaringan logistik digital. Mereka juga ingin menghubungkan berbagai mitra dengan pelaku usaha, baik UKM maupun korporasi dalam sebuah platform terintegrasi. “Kami menargetkan menjadi agregator logistik pilihan pertama bagi pelanggan maupun mitra usaha logistik di Indonesia.”

Yang menarik, Telefast juga punya rencana berinvestasi di bisnis motor listrik serta penukaran baterai listrik. Rasionalisasi dari investasi ini, Jody memaparkan, adalah karena pihaknya ingin memanfaatkan mitra-mitra toko yang terkoneksi Telefast. Mereka ingin mengubah jaringan toko menjadi titik penukaran baterai kendaraan listrik. “Kami berharap upaya yang kami lakukan ini dapat memberikan nilai tambah yang positif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Rencana ini memang menunggu realisasi. Namun, bila rencana ini berhasil, bukan mustahil harga saham perusahaan ini terus naik melewati Rp. 5.000. Itu berarti pemegang saham pun makin kipas-kipas seraya tersenyum bahagia.


Sumber: Majalah SWA Edisi 14/21 (22 Juli - 4 Agustus).

Social Media